Rabu, 30 Mei 2012

MEMBANGUN ETOS KERJA DENGAN SPIRITUALITAS RELIGIUS

A.    Pendahuluan
Hampir di setiap sudut kehidupan, kita akan menyaksikan begitu banyak orang yang bekerja. Apalagi bagi seorang muslim bekerja dimaknai sebagai suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, pikir, dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairu ummah) (Tasmara, 2002:25). Atau dengan kata lain dapat juga kita katakan bahwa dengan hanya bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.
Keberhasilan kerja seseorang ditentukan oleh adanya etos kerja tinggi yang tertanam dalam dirinya. Dengan cara memahami dan meyakini ajaran-ajaran agama yang berhubungan dengan penilaian ajaran agama tersebut terhadap kerja, akan menumbuhkan suatu etos kerja pada diri seseorang. Pada perkembangan selanjutnya etos kerja ini akan menjadi pendorong keberhasilan kerjanya. Persoalannya bagaimana konsep etos kerja dalam Islam yang digali dari al-Quran dan al-Hadis.

Mereka yang beretos kerja memiliki semacam semangat untuk memberikan pengaruh positif kepadanya bahkan kepada lingkungannya. Keberadaan dirinya diukur oleh sejauh mana potensi yang dimilikinya memberikan pengaruh mendalam bagi orang lain (tasmara, 2002:13).
B.     Hakikat Etos Kerja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘etos’ adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial, dan etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi cirri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Sedangkan dalam pedoman penghayatan dan pengalaman pancasila, suatu etos kerja dapat dikatakan dimuat di bawah sila yang kelima, yaitu: sikap adil terhadap sesama, keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak-hak orang lain, suka member pertolongan dengan tujuan agar yang ditolong bisa berdiri sendiri, bekerja keras dan menghargai hasil karya orang lain.
Sejalan dengan itu,
Ciri-ciri orang yang mempunyai dan menghayati etos kerja akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya dalam melakukan suatu hal. Hal tersebut akan dilakukannya  dengan sebaik-baiknya, dan sesempurna mungkin yang dihiasi dengan kejujuran dan semangat kerja. Sehingga apa yang telah dilakukannya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Selain itu, setiap tindakan yang dilakukannya juga disertai oleh rasa tanggung jawab.  
Dengan dimikian, etos menyangkut semangat hidup, termasuk semangat bekerja, menuntut ilmu pengetahuan dan meningkatkan keterampilan agar dapat membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan. Manusia tidak akan memperbaiki hidupnya tanpa semangat kerja, pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang pekerjaan yang ditangani.
C.    Tasawuf dan Etos Kerja
Tasawuf sering dianggap mengandung ajaran yang melemahkan etos kerja. Misalnya dalam tasawuf ada yang disebut wara’ (menjauhi perbuatan dosa), zuhud (hidup sederhana), qana’ah (merasa puas dengan apa yang dimiliki),farq (kemiskinan), dan lain-lain. Tasawuf juga memiliki kebiasaan membaca wirid, zikir, dan doa yang menyita banyak waktu, sehingga dapat mengurangi kesempatan untuk mencari uang. Memang tasawuf memiliki ajaran seperti itu, tetapi tidak dimaksudkan supaya orang menjadi malas, tidak disipin, bahkan tidak mau bekerja keras. Ajaran tasawuf itu bertujuan agar manusia tidak mencari uang dengan cara yang haram, menyalahi aturan agama setelah kaya atau ingkar terhadap tuhan ketika hidup miskin.
Pada dasarnya tasawuf itu baik dan benar, tetapi persepsi orang terhadapnya sering keliru. Ini disebabkan oleh mentalitas masyarakat Indonesia yang sudah rusak akibat berbagai pengalaman sejarah yang menyakitkan selama ini. mentalitas masyarakat yang rusak menyebabkan persepsi terhadap ajaran agama kadang-kadang keliru, seperti persepsi terhadap ajaran tasawuf.
Karenanya, persepsi yang keliru itu harus dilacak pada sikap kerusakan sikap mental masyarakat. Mentalitas masyarakat Indonesia mulai rusak ketika mengalami penjajahan ratusan tahun. Penjajahan ini lah yang menyebabkan masyarakat menderita lahir batin. Seperti hidup miskin, kecewa, frustasi, stress, pesimistis, serta merasa tidak ada masa depan. Ini kemudian menjungkirbalikkan tatanan masyarakat serta merusak mentalitas dan cara berpikir. Akibatnya nilai-nilai dari budaya dan agama sering dipersepsikan secara keliru. Inilah yang telah dialami oleh tasawuf yang sering dipersepsikan sebagai  faktor yang melemahkan etos kerja. Untuk memperbaiki persepsi yang keliru itu, selain mentalitas masyarakat perlu dibangun kembali, juga ada baiknya dilakukan reinterpretasi terhadap sikap-sikap dan ajaran tasawuf.
Menyadari hal tersebut, jika menganggap bahwa tasawuf itu dapat melemahkan etos kerja bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang mewajibkan manusia bekerja. Padahal tasawuf sebagai bagian dari ajaran Islam yang tidak mungkin bertentangan dengan ajaran dasar agama Islam. Kalau bertentangan dengan ajaran dasar Islam, maka ajaran tasawuf itu salah atau keliru. Menurut ajaran Islam, bekerja itu wajib, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga dan umat. Tasawuf pun sejalan dengan ajaran dasar Islam, sehingga tasawuf tidak melemahkan etos kerja, tetapi malah dapat memperkuat etos kerja.
D.    Konsep Etos Kerja dalam Tasawuf
Untuk meningkatkan semangat atau etos kerja dalam diri kita, para ahli sufi telah mengajarkan kita melalui sikap yang mereka contohkan dalam kehidupan mereka sesuai dengan ajaran dan konsep tasawuf. Diantaranya, sikap Optimisme, Istiqamah, Sabar, Ikhlas, Ridha, Qana’ah, Takwa, Takut, Tawakal, Tobat, Zuhud, Wara’, Syukur, Cinta, Rindu, Shidiq, Syaja’ah, Takdir, Malu, Zikir, Doa, Tafakkur, Uzlah, Kemiskinan, dan Kematian.
Sikap Optimisme atau harapan jelas mempunyai tujuan yang dapat membuat semangat kerja seseorang menjadi kuat, karena untuk menciptakan sikap optimisme ini membutuhkan usaha yang besar pula. Jika harapannya untuk bertemu dengan Allah, maka ia harus berusaha keras untuk mendekatkan diri kepanya-Nya. Namun jika ia berharap kehidupan didunianya lebih baik, maka ia harus bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Untuk itu, tasawuf dapat mengajak kita untuk bekerja keras untuk mencapai apa yang kita inginkan, namun apabila harapan itu tidak tercapai maka kita tidak boleh berputus asa, karena hal ini sangat bertentangan dengan sikap optimisme. Apapun pekerjaan yang kita lakukan, maka kita harus tetap memiliki sikap optimisme, agar apa yang kita harapkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT.
Selanjutnya adalah sikap Istiqamah atau sikap teguh terhadap sesuatu, istiqamah merupakan salah satu hal penting dalam melakukan suatu pekerjaan. Dengan sikap teguh atau konsisten yang kita miliki, maka dengan mudah kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Konsisten disini kita bisa lihat dari berbagai segi, terutama dalam hal tingkah laku yang akan kita perbuat. Seseorang yang tidak memiliki konsisten maka ia akan selalu gagal dalam melakukan pekerjaannya. Istiqamah yang dimaksud adalah berhubungan dengan perbuatan yang baik, dan tidak merugikan bahkan menyalahi aturan agama.
Sikap Sabar juga perlu dalam pengembangan semangat kerja, didalam suatu pekerjaan kita pasti akan mendapatkan suatu kesulitan. Misalnya kita merasa lelah, atau kita merasa tidak mampu melakukan pekerjaan yang harus kita lakukan, maka tanpa kesabaran kita tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan itu. Rasa semangat kerja akan  lebih tinggi jika kita ingat untuk bersabar dalam menjalankan perintah tuhan, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, untuk memenuhi kebutuhan semua itu juga memerlukan biaya besar yang hanya kita dapatkan dengan bersabar dan kerja keras.
Sikap Ikhlas merupakan dasar etos kerja yang paling ideal, karena dengan sikap ikhlas seseorang tidak akan pernah mengenal lelah dalam menjalankan pekerjaannya. Berbeda dengan seseorang yang tidak memiliki sikap ikhlas, ia akan merugikan banyak pihak terutama dirinya sendiri. Sikap ikhlas juga membuat seseorang melakukan jujur dalam pekerjaannya. Dengan demikian, seseorang akan bertanggung jawab atas pekerjaan yang ia lakukan, ia juga sadar bahwa pekerjaan yang ia lakukan bukan hanya menguntungkan dirinya, namun juga untuk orang lain.
Ridha berarti senang, juga merupakan sikap yang diperlukan dalam meningkatkan semangat kerja. Ridho disini berarti senang terhadap segala perintah tuhan, termasuk perintah mencari nafkah. Hal itu berarti kita sebagai umat islam  harus berusaha keras dalam menghadapi hidup. Mencari nafkah merupakan salah satu tindakan ridha terhadap Allah, dan jika kita telah ridho maka pekerjaan seberat apapun kita akan merasa mudah dan senang.
Kemudian sikap Qana’ah, yaitu sikap merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh. Seberapa pun upah yang kita dapatkan kita harus merasa sabar dan bersyukur. Karena sekecil apapun rezeki itu, janganlah kita mudah putus asa, percayalah semuanya telah ditentukan oleh Tuhan.  Sedangkan apabila kita mendapatkan rezeki yang lebih, janganlah kita menghamburkannya dengan perbuatan yang dilarang oleh tuhan. Tujuan qana’ah mengajarkan kita untuk merasa cukup dengan apa yang kita punya, karena agar kita tidak terdorong terhadap perbuatan yang sangat dibenci Allah, seperti korupsi ataupun mencuri.
Takwa yang berarti menjaga atau memelihara, dimaksudkan agar kita selalu menjaga diri terhadap perbuatan yang tercela. Memelihara rasa takut untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri bahkan  mengahancurkan beradaban manusia. Dengan takwa kita dapat membangun dunia tanpa melewati babatasan agama.
Kemudian sikap Tawakal, yaitu sikap berserah diri kepada Tuhan, atas apa yang telah kita lakukan. Apapun hasil yang Allah berikan maka kita harus tabah menerimanya. Usaha yang dilakukan terus menerus juga merupakan salah satu tindakan semangat kerja yang ditanamkan oleh sikap tawakal.
Tobat mengandung etos kerja yang tinggi, karena pada intinya tobat adalah memperbaiki diri dari perbuatan yang tercela kembali kepada perbuatan yang terpuji sebagaimana yang telah diajarkan agama islam, yaitu dengan cara mencari dan mengembalikan harta haram yang telah diperoleh. Sehingga tobat dapat meningkatkan semangat kerja kita untuk mencari nafkah halal dan mengembalikannya kembali dengan rezeki yang halal.
Zuhud merupakan salah satu sikap yang diajarkan tasawuf, yaitu mengingatkan kepada umat manusia agar tidak terlalu cinta terhadap kekayaan yang ada didunia ini. sikap zuhud tidak berarti membuat hidup kita melarat, sehingga membuat kita malas bekerja. Zuhud hanya mengajarkan kita untuk mencari nafkah yang halal dan tidak menghambur-hamburkan uang kita dengan perbuatan maksiat.
Wara’ juga termasuk salah satu sikap yang diajarkan dalam tasawuf, wara’ berarti berpantang. Maksudnya, kita harus meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat atau haram. Wara’ juga Bertujuan untuk mengendalikan hawa nafsu kita terhadap kekayaan didunia ini. Untuk memakmurkan hidup kita, dengan sikap wara’ kita tidak akan melakukan perbuatan yang diharamkan agama.
Dengan rasa Syukur kita juga dapat meningkatkan semangat kerja, maksudnya kita dapat berterima kasih kepada Allah SWT, terhadap nikmat yang kita peroleh, berterimaksih tidak hanya dilakukan dengan lisan, juga harus diikuti dengan tindakan. Misalnya, dengan bekerja lebih keras. Bekerja disini dalam rangka taat kepada Allah, sehingga pekerjaan itu tidak boleh sedikitpun ternodai oleh perbuatan yang dilarang oleh Allah.
Cinta merupakan hal terpenting dalam meningkatkan semangat kerja. Telah kita ketahui, cinta terhadap Allah adalah cinta yang utama, cinta terhadap diri sendiri dan keluarga dapat kita tempatkan dibawah cinta kepada Allah. Dengan rasa cinta itu, sebagai muslim maka semangat kerja kita akan semakin tinggi. Dorongan semangat bekerja itu dapat berasal dari cinta yang kita miliki, yaitu cinta kepada Allah karena kita ingin bertakwa kepada-Nya, dan cinta kepada keluarga karena kita ingin memberikan kebahagiaan kepada mereka dengan memberika nafkan yang halal.
Sikap yang selanjutnya adalah Rindu, rindu disini adalah rindu terhadap Allah yang berada di atas rindu keluarga dan rindu apapun. Sikap rindu itu akan memacu seseorang untuk selalu berbuat aktif, baik dalam urusan agama maupun urusan duniawi. Seseorang akan semangat bekerja jika dia merasa rindu dengan keluarganya. Dengan demikian, rindu merupakan sikap yang dapat menumbuhkan semangat kerja yang kuat, dengan rindu keluarga berarti dia rindu terhadap Allah, Karena rindu teradap Allah harus berada di atas rindu keluarga.
Kemudian Shidiq, shidiq adalah benar atau jujur. Maksudnya, benar atau jujur dalam perbuatan ataupun ucapan. Sikap shidiq dimaksudkan agar orang bekerja dengan jujur. Jujurnya seseorang dapat kita lihat pada pekerjaan dan ucapannya. Dengan demikian, shidiq  dapat meningkatkan semangat kerja seseorang menjadi kuat. Maka tanpa bekerja, seseorang akan sulit membuktikan kejujurannya terhadap orang lain.
Syaja’ah yang berarti berani, maksudnya berani melakukan perbuatan yang benar, meskipun menanggung resiko yang sangat berat. Seperti halnya dalam pekerjaan, seseorang pasti terkadang merasa sulit dalam menghadapi pekerjaannya yang disebabkan oleh rasa takut, namun jika dia mempunya keberanian yang tinggi, maka segala kesulitan itu dapat diatasinya. Dengan demikian syaja’ah juga dapat menumbuhkan semangat kerja yang kuat.
Takdir adalah sebuah ketentuan Tuhan tentang segala sesuatu yang belum terjadi didunia ini. Setiap orang telah ditakdirkan tuhan untuk memiliki pikiran, kemampuan, kemauan, dan kebebasan yang bertujuan agar seseorang dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan dia dan keluarga. Sehingga manusia ditakdirkan untuk bekerja keras mencari nafkah. Orang yang menyadari takdir yang digariskan Tuhan itu maka dia akan semangat bekerja sehingga dapat mensejahterakan hidupnya. Sebaliknya, jika seseorang mengingkari takdirnya, maka hidupnya akan selalu mendapatkan kesulitan.
Rasa Malu juga sangat penting dalam meningkatkan semangat kerja, malu disini malu terhadap Allah dan diri sendiri saat kita hendak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Mempunyai rasa malu juga dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Malu untuk berbuat jahat, maka dapat mendorong seseorang untung berbuat baik. Begitu juga dalam hal pekerjaan, seseorang akan malu melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, maka dia akan terdorong untuk bekerja keras sehingga tidak melakukan pekerjaan yang salah.
Dengan menyebut nama Allah atau Wirid, mengerjakan sholat sunah, membaca Al quran, zikir, dan doa, selain mendapatkan pahala bagi yang mengerjakannya, juga dapat membuat ketenangan hati dan pikiran orang tersebut.  Sehingga sangat penting untuk meningkatkan semangat kerja. Tanpa ketenangan itu, kita tidak akan merasa tenang, bahkan dapat menyebabkan pekerjaan kita menjadi hancur atau tidak maksimal.
Seperti halnya wirid, dengan memperbanyak Zikir orang akan selalu ingat terhadap Allah dan perintah-Nya, seperti bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga. Dengan demikian zikir juga dapat meningkatkan semangat kerja yang kuat. Zikir juga dapat memberikan ketenangan hati dan pikiran, sehingga masyarakat zaman sekarang yang banyak mengalami stress dan dapat mengganggu jiwa dan pikiran mereka, dengan memperbanyak zikir orang yang merasa stress itu dapat merasa lebih tenang dalam melakukan pekerjaannya.
Doa adalah suatu tidakan memohon terhadap Tuhan untuk mendapatkan kebahagian baik di dunia dan di akhirat. Harus kita sadari bahwa doa tidak dapat berdiri sendiri, dengan hanya berdoa Tuhan tidak akan pernah mengabulkannya. Doa harus diikuti dengan usaha atau ikhtiar yang sungguh-sungguh, dengan begitu permohonan itu akan dikabulkan.
Tafakkur berarti perenungan, maksudnya kita perlu merenungkan  ciptaan Allah yang ada dimuka bumi ini. Tafakkur adalah perbuatan wirid yang dapat mendekatkan diri kita terhadap Allah SWT. Tafakkur juga dapat memunculkan kerinduan kita terhadap perintah-Nya, salah satunya mencari nafkah untu keluarga.  Selain itu tafakkur juga dapat membuat hati dan pikiran kita tenang dalam melakukan pekerjaan kita. Oleh sebab itu, tafakkur juga menjadi salah satu peningkatan semangat kerja yang kuat.
Uzlah yaitu mengasingkan diri, yakni mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat, sehingga dapat menjauhkan diri dari perbuatan maksiat serta melatih kita untuk membiasakan diri melakukan ibadah. Oleh sebab itu dengan melakukan uzlah kita dapat menenangkan hati dan pikiran, sehingga dapat meningkatkan kembali semangat kerja kita dalam memenuhi kewajiban kita untuk mencari nafkah.
Dalam ajaran tasawuf, Kemiskinan atau farq artinya seseorang pada dasarnya adalah miskin secara spiritual dan material. Dengan kemiskinan itu, seseorang akan terdorong untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan banyak beribadah dan akan berkerja keras untuk mencari rezeki yang halal dan banyak. Sehingga dengan konsep kemiskinan itu, sikap semangat kerja seseorang akan lebih terpacu.
Peningkatan semangat kerja yang terakhir adalah dengan ingat Kematian. Jika mengingat kematian tidak harus dengan menjauhi urusan dunia, tetapi melakukan perbuatan yang nyata dikehidupan dunia. Dengan ingat kematian pun kita akan membuat sikap kita untuk lebih berani menghadapi sebuah kematian. Itu berarti, sikap berani mati yang kita miliki dapat mendorong kita untung lebih semangat bekerja sampai akhir hayat kita. Orang yang ingat mati maka adalah orang yang sadar bahwa hidup didunia ini adalah sementara, dengan begitu dia akan mempergunakan waktunya sebaik-baiknya untuk melakukan ibadah dan bekerja keras dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Semoga kita termasuk orang yang dapat melakukan sikap-sikap atau perbuatan yang dapat meningkatkan semangat kerja seperti yang dilakukan para sufi dalam mengamalkan ajaran tasawuf.
E.     Simpulan
Dapat disimpulkan, bahwa etos menyangkut semangat hidup, termasuk semangat bekerja, menuntut ilmu pengetahuan dan meningkatkan keterampilan agar dapat membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan. Manusia tidak akan memperbaiki hidupnya tanpa semangat kerja, pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang pekerjaan yang ditangani.
Untuk meningkatkan etos kerja dalam diri kita, para ahli sufi telah mengajarkan kita melalui sikap yang mereka contohkan dalam kehidupan mereka sesuai dengan ajaran dan konsep tasawuf. Di antaranya, sikap Optimisme, Istiqamah, Sabar, Ikhlas, Ridha, Qana’ah, Takwa, Takut, Tawakal, Tobat, Zuhud, Wara’, Syukur, Cinta, Rindu, Shidiq, Syaja’ah, Takdir, Malu, Zikir, Doa, Tafakkur, Uzlah, Kemiskinan, dan Kematian.
Semoga kita termasuk orang yang dapat melakukan sikap-sikap atau perbuatan yang dapat meningkatkan etos kerja seperti yang dilakukan para sufi dalam mengamalkan ajaran tasawuf.
Daftar Pustaka
Tasmara, Toto. 2002. Membudayakan Etos Kerja Islami. Jakarta : Gema Insani.
Tebba, Sudirman. 2006. Bekerja dengan Hati. Jakarta : Bee Media Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar